Pasar Taruhan Dahaga Juara Tim Garuda

Dahaga Juara Tim Garuda

Dahaga Juara Tim Garuda

Pasar Taruhan – Tim sepak bola Indonesia dulunya adalah macan Asia. Bahkan pernah menjadi peringkat keempat di ASIAN GAMES. Indonesia juga merupakan tim pertama dari Asia yang berhasul memasuki dan berlaga di putaran final Piala Dunia. Tim ini bahkan pernah membuat Uni Soviet dulu, ketika masih ada bersatu dan berjaya, gagal mencetak gol sama sekali di pesta olahraga sedunia, Olimpiade. Siapa yang tak kenal Sucipto, Suntoro, Anjas Asmara, Roni Paslah di jagat sepak bola Asia? Jika tim lain dari Asia bertemu Indonesia, mereka harus berpikir seribu kali untuk memakai strategi yang tepat melawan tim merah putih.

Belum lagi kala Indonesia berlaga di kandang maka ada dua hal yang harus dihadapi tim lawan. Hal pertama adalah tim Indonesia sendiri, yang kedua adalah pendukung setia garuda yang selalu memadati Stadion Utama Senayan. Sekarang, Indonesia bahkan selama lebih dari dua puluh tahun belum pernah mendapatkan gelar internasional resmi sama sekali. Indonesia hanya berhasil juara di kejuaraan-kejuaraan invitasi atau undangan seperti Piala Merdeka, Piala Kejayaan, Piala Raja Thai. Namun, kalau berbicara mengenai pergelaran resmi, Indonesia hasilnya nol besar.

Jangankan untuk lolos ke Piala Dunia, di level regional kawasan, Asia Tenggara, Indonesia bahkan kini boleh dibilang dalam tahap mengkhawatirkan. Indonesia bisa tertinggal dari negara-negara seperti Singapura, Burma, Vietnam yang dulunya bukan merupakan lawan sepadan Indonesia. Tetapi kini, Indonesia justru sangat kesulitan untuk sekadar menahan seri kedua lawan tersebut. Hal apa yang membuat ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana saja: pondasi sepak bola.

Burma, Singapura dan Vietnam melakukan pondasi bertahap di kehidupan sepak bola mereka. Pembinaan sepak bola mereka dilakukan secara bertahap. Mereka sadar bahwa untuk meraih hal tersebut tidaklah instan, apalagi mengingat rakyat mereka baru menggilai sepak bola dalam sepuluh tahun terakhir ini. Mereka menerapkan kurikulum yang diserap dari akademi-akademi sepak bola Eropa kemudian menerapkannya di sekolah-sekolah yang mempunyai ekstra kulikuler sepak bola. Hasilnya memang baru terlihat sekarang tapi mereka sudah memulainya sepuluh tahun lalu.

Sementara itu, di kita, Indonesia baik sebagai bangsa maupun sebagai organisasi sepak bola nampaknya malas belajar. Makanya wajar kemudian tim nasional seperti dikutuk tidak mendapatkan juara apapun selama dua puluh tahun terakhir ini. Apalagi mengingat konflikĀ  yang terus terjadi di dalam tubuh organisasi sepak bola tercinta kita, PSSI. Beruntung konflik ini akhirnya selesai. Tetapi, Pekerjaan Rumah dan tugas berat menanti yakni; menghadirkan piala ke tanah tercinta nusantara ini.

Event terdekat adalah SEA Games 2013. Beban memang dipikul Rahmad Darmawan sebagai pelatih timnas U-23 yang memang harus berlaga di event tersebut. Sebenarnya SEA Games terdahulu lumayan memberikan secercah harapan apalagi kalau melihat materi pemain yang terbatas dan Indonesia hampir saja menjadi juara kalau saja tidak kalah sial adu penalti. Kini materi pemain berlimpah dan persiapan lebih lama. Akankah dahaga ini hilang? Semoga saja. Pasar Taruhan