Moyes Tepis Tudingan Roy Keane

Moyes Tepis Tudingan Roy Keane

Moyes Tepis Tudingan Roy Keane

David Moyes menepis semua tudingan yang diuduhkan mantan kapten Manchester United Roy Keane. Asisten pelatih Republik Irlandia itu menganggap kalau Sir Alex Ferguson masih memiliki ambisi kuat mengontrol Red Devils sepenuhnya di musim kompetisi 2013-14. Alasan yang dikeluarkan Roy Keane beberapa waktu lalu tentu saja cukup beralasan, mengingat Sir Alex kembali ke Old Trafford namun bukan sebagai pelatih, melainkan dalam jajaran kepengurusan dewan klub dan hal ini membuat mantan pelatihnya itu seakan-akan masih haus akan sebuah kekuasaan dalam genggamannya di Manchester United. Dalam sebuah acara dokumenter televisi di Britania Raya, Keane mengklaim bahwa Ferguson merupakan sosok pribadi yang memiliki watak egois tinggi dan ia tidak akan pernah melepas dampak dan pengaruhnya untuk klub yang sudah ditangani olehnya selama 26 tahun terakhir dan pelatih yang berada di bawah tekanan saat ini, Moyes, berupaya untuk menjernihkan tudingan itu.

 “Saya justru menganggap dengan kehadiran Sir Alex di klub ini merupakan salah satu acuan yang sangat membantu saya, itu yang dapat saya katakan,” lantang Moyes. “Jika saya membutuhkan sebuah saran dan pendapat, saya tinggal mengangkat telepon dan ia pun memberikannya dengan sepenuh hati. Ia merupakan sosok yang sangat baik. “Ia sama sekali tidak mementingkan posisi. Karena saya memang tidak pernah melihat kalau hal itu diinginkan olehnya. Ia memang datang ke setiap pertandingan, tetapi posisinya sebagai direktur klub saat ini, jadi tentu saja dia berhak untuk hal itu. Saya harus mengatakan, kalau saya tidak memiliki permasalahan dengan Sir Alex. Karena setiap saya merasa butuh sebuah opini, maka saya tinggal menghubunginya. “Jelas kami saling berbenturan dalam beberapa kesempatan, tetapi faktor itu karena ia merupakan seorang direktur klub. Bahkan selepas pertandingan kami saling bertegur sapa lagi, namun hal itu tidak merubah suasana di ruang ganti.

“Sebagian besar direktur klub melakukan hal itu, namun Alex justru menjauhkan dirinya dari hal tersebut. Jika saya butuh, maka saya akan menghubunginya atau jika saya ada keperluan yang saya minta, maka saya akan katakan kepadanya. Setidaknya hal ini terus berlangsung selama dua atau tiga pekan, memang seperti itu kondisinya.” Moyes menyadari kalau tim asuhannya harus menghentikan aksi buruk dan mulai mengejar ketertinggalan angka dengan tim-tim lainnya, setelah mengantongi dua kekalahan beruntun di kompetisi domestik, namun ia menegaskan faktor sikap dan perilaku dari anak-anak asuhannya tidak dapat diragukan lagi. “Saya katakan kepada anda bahwa setiap kali kami bermain dalam suatu pertandingan dan kami tidak pernah menang, maka pemain-pemain saya sangat tidak senang akan hal itu,” tambahnya.

“Tentu ada sebuah beban berat yang harus diemban oleh mereka. Saya bisa melihat dalam diri setiap masing-masing individu. Ada rasa tangguh yang coba ditunjukkan semua pemain di sini dan mengembalikan posisi yang sebenarnya. Mereka tahu sampai sejauh mana melangkah dan memiliki sebuah standar prosedur permainan, yang sudah bertahun-tahun mereka miliki, sehingga mereka semua ingin kembali ke jalur persaingan. “Saya pribadi tidak ingin mempertanyakan keseriusan mereka sampai di mana atau permainan mereka yang mulai kehilangan sentuhan di sini. Karena saya melihat sebuah rasa kekecewaan di ruang ganti dan hal ini disebabkan karena mereka tidak mampu memenangi pertandingan dan tentu saja hal tersebut sangat positif.”